Aceh Mengembangkan Indsutri Pariwisata

Aceh menyimpan sejuta pesona yang memukau. Banyak destinasi wisata yang ditawarkan di provinsi berjuluk Serambi Makkah ini.

Berbagai upaya pengembangan dilakukan Pemerintah Aceh untuk menggenjot sektor pariwisata. Melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, telah dirilis 100 event yang bakal digelar sepanjang tahun. Dari jumlah itu, 10 masuk ke dalam top event dan dilaksanakan bertaraf nasional hingga internasional. Di antaranya, Sabang Marine Festival (SMF), Festival Danau Lut Tawar, Pulau Banyak International Festival, dan Aceh International Diving Festival. Pemprov Aceh juga bertekad kuat mewujudkan destinasi pariwisata halal.

Apalagi Aceh meraih penghargaan Indonesia Muslim Traveler Index (IMTI) 2019 sebagai peringkat dua Destinasi Wisata Halal Terbaik. Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, mengatakan wisata halal diakui secara global dan ke depannya Aceh akan fokus meraih predikat terbaik. “Andalannya pada kuliner, fashion, alam, adat, dan warisan budaya tidak benda. Namun, core utamanya kuliner. Saat ini kepala dinas sudah mendata kuliner andalan dan menambah value dari berbagai sisi. Kami akan mengadakan Aceh Culinary Festival dan Banda Aceh Coffee Festival,” kata Nova. Fashion dibidik menjadi target selanjutnya karena busana muslim dinilai cocok dengan konsep wisata halal. Fashion busana muslim Aceh mulai digemakan lewat Islamic Fashion Festival (IFF) 2019. Selain itu, Pemprov membina Industri Kecil Menengah (IKM) di bidang fashion serta membawa hingga level internasional.

Konsep halal tourism ini lekat dengan nilai Islam, seperti kebersihan bagian dari iman, menjaga warisan budaya (heritage), adat istiadat, dan melestarikan alam. Adapun pemetaan kawasan pariwisata halal meliputi seluruh wilayah Aceh dan untuk budaya yang meliputi atraksi unggulan Masjid Raya Baiturrahman, Museum Tsunami, Pantai Lampuuk, PLTD Apung, selancar angin, selancar layang, Museum Negeri Aceh, Taman Sari Gunongan, Pulau Tailana, dan Pantai Ulee Lheu. Selanjutnya, Sabang dengan destinasi alam meliputi Pulau Weh, Tugu Kilometer 0, Pantai Iboih, dan Pantai Sumur Tiga. Aceh Jaya dengan alam yang meliputi Teluk Rigaih, Gunung Geurutee, Pasi Saka, Pulau Tsunami, dan Arung Jeram Sungai Teunom.

Tak ketinggalan, Dataran Tinggi Gayo dengan mengusung konsep alam dan budaya yang meliputi Danau Laut Tawar, Gua Loyang Koro, Pantan Terong, Wih Terjun, dan Pantai Menye. Kadisbudpar Aceh, Jamaluddin, meyakini persepsi Aceh sebagai destinasi wisata halal dunia kini berkembang cukup pesat. Walaupun demikian, Aceh terus melakukan pembenahan baik dari sisi aksesibilitas, amenitas, maupun atraksi untuk mencapai peningkatan jumlah kunjungan wisatawan setiap tahun, khususnya wisatawan muslim.

Kini Aceh telah berbenah dan menunjukkan wajah baru sebagai daerah yang layak dikunjungi oleh wisatawan domestik dan mancanegara dari seluruh lapisan dengan menghargai kearifan lokal masyarakat yang kental dengan nilai-nilai islami, ujar Jamaluddin. Data Disbudpar Aceh mencatat, kunjungan wisatawan meningkat dari tahun ke tahun. Dalam waktu dekat, budaya Aceh akan dibawa ke Arabian Travel Market (ATM), New York Fashion Week, pameran sejarah di Turki, dan pameran di Timur Tengah. Jelang Ramadan ada Festival Meugang yang merupakan tradisi membelah kepala sapi pada 1–2 Mei 2019. Selanjutnya, Ramadhan Fair yang akan berlangsung pada 7–21 Mei 2019, dan Islamic Art Festival. Pada April–Desember digelar berbagai acara, di antaranya Festival Mie, Aceh Bike Cross Country, dan Peringatan 15 Tahun Tsunami Aceh. Dan, pada 5-7 Juli 2019 akan diadakan Aceh Cullinary Festival.