Era Baru Kaisar Naruhito

Halaman istana Kekaisaran Jepang di pusat Kota Tokyo bermandikan sinar matahari musim semi pekan lalu. Para pelari yang se- dang menyelesaikan putaran parit tampak menghindar dari turis asing yang berkelompok. Karyawan kantoran menyantap makan siang bola nasi dan teh. Di sisi lain parit, tersembunyi di balik barisan pohon, istana kekaisaran sedang mempersiapkan transisi bersejarah bagi negara itu. Pada Selasa, 30 April ini, menurut rencana, Kaisar Akihito akan memasuki ruangan di bangunan istana itu. Di hadapan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dan politikus senior lain, ia secara resmi akan turun takhta.

Ia menjadi kaisar pertama yang mundur dalam 200 tahun terakhir. Pada akhir upacara selama sepuluh menit itu, era Heisei, yang dimulai pada 7 Januari 1989, resmi berakhir. Keesokan paginya, putra sulungnya, Naruhito, 59 tahun, akan memasuki ruangan yang sama dan menerima pedang, permata, serta cermin—tiga harta suci yang diwariskan ke garis kekaisaran—sebagai buk- ti penobatannya menjadi kaisar baru.

Perdana Menteri Abe akan menyambut penobatan itu atas nama rakyat Jepang, dan era baru Reiwa dimulai. Karakter Reiwa diambil dari buku puisi tertua Jepang, Manyoshu, yang berarti “harmoni yang indah”. Berbeda dengan sebagian besar negara lain, Jepang menggunakan kalender Barat dan periode pemerintahan kekaisaran. Dalam kalender Jepang, tahun 2019 disebut Heisei 31 (tahun ke-31), yang sekarang menjadi Reiwa 1. Penanggalan ini dipakai untuk sejumlah dokumen pemerintahan. Rencana suksesi ini sudah cukup lama disiapkan. Kaisar Akihito, yang telah berusia 85 tahun, menyatakan niatnya turun takh- ta pada 2016 karena alasan kesehatan.

Parlemen Jepang mengesahkan undang-undang yang memungkinkan Akihito lengser pada 8 Juni 2017. Pengunduran diri Akihito dijadwalkan berlangsung pada 30 April 2019. Setelah pensiun, Akihito akan menjadi joko (kaisar emeritus), sementara Permaisuri Michiko menjadi jokogo (permaisuri emeritus). Naruhito, kaisar baru nanti, dan istrinya, Masako, mewakili banyak hal baru dalam sejarah Negeri Sakura. Untuk pertama kalinya, mereka adalah kaisar-permaisuri yang berpendidikan universitas, menguasai banyak bahasa, dan bermukim bertahun-tahun di luar negeri. Naruhito lahir di Tokyo pada 23 Februari 1960 sebagai putra tertua pasangan Akihito-Michiko. Naruhito mulai menempuh pendidikan tingginya di Gakushuin University pada April 1978. Ia mengambil bidang sejarah dan lulus empat tahun kemudian.

Topik skripsinya tentang transportasi air di Laut Pedalaman Seto selama Abad Pertengahan. Setahun kemudian, ia pindah ke Inggris untuk kuliah di Merton College, Oxford University, mempelajari sejarah transportasi di Sungai Thames pada abad ke-18. Naruhito mencatat masa-masa di Oxford dengan tekun dan menuangkannya dalam memoar The Thames and I: A Memoir of Two Years at Oxford, yang terbit pada 1993. Buku itu menceritakan kehidupan sehari-harinya di Oxford, pengalamannya berkeliling Inggris dan Eropa, serta sejumlah anekdot tentang seorang putra mahkota yang berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan mahasiswa. Ia menyebut periode ini sebagai waktu paling bahagia dalam hidupnya. Dalam memoarnya, Naruhito menuturkan pernah hampir membuat asrama mahasiswa kebanjiran saat ia mencuci pakaian untuk pertama kali dalam hidupnya.

Menurut Nippon.com, Naruhito juga mengungkapkan kepada teman-temannya di Oxford tentang kemiripan kata Jepang untuk “Yang Mulia” (“denka”) dengan “lampu listrik” (“denki”). Setelah itu, teman-temannya memanggilnya Denki, bukan Denka. Setelah lulus dari Oxford, ia kembali ke Tokyo dan meraih gelar master lain dari Gakushuin University pada 1988. Setahun kemudian, ia memasuki babak baru dalam hidupnya. Kaisar Hirohito meninggal pada 7 Januari 1989, yang menandai berakhirnya era Showa dan dimulainya era Heisei (Akihito). Saat ayahnya menjadi kaisar, Naruhito pun menjadi putra mahkota. Kisah cinta Naruhito-Masako bermula di Gakushuin. Naruhito bertemu dengan Masako Owada, diplomat karier lulusan Oxford University dan Harvard University, Amerika Serikat, dalam sebuah pesta minum teh untuk seorang putri Spanyol pada 1986.