Hari Paskah Kelabu di Srilanka

AMELIE dan Daniel Linsey sedang berada di restoran Hotel Shangri-La di Kolombo, Sri Lanka, saat sebuah ledakan mengguncang tempat mereka menyantap sarapan, Ahad, 21 April lalu. Kedua remaja itu, bersama ayah mereka, Matthew Linsey, selamat dari ledakan dahsyat tersebut. Ketiganya berlari keluar dari restoran yang pagi itu ramai oleh turis asing. Namun, hanya berselang beberapa langkah dari pintu restoran, sebuah ledakan lain menyentak. Mereka jatuh pingsan.

Ketika mulai siuman berapa menit kemudian, Matthew mendapati Amelie dan Daniel masih tergeletak tak sadarkan diri. Dia berteriak meminta tolong. Situasinya kacau. Orang-orang berteriak panik. Saya tidak bisa membangunkan anak-anak saya, ucapnya. Seorang perempuan membantu menggotong putrinya ke ambulans. Beberapa orang lain membantu Matthew membopong Daniel, yang terluka lebih parah. Keduanya dilarikan ke rumah sakit terdekat. Tapi nyawa mereka tidak tertolong, kata Matthew, bankir Inggris kelahiran Amerika Serikat, seperti diberitakan Daily Mail.

Sri Lanka diguncang serangan bom bertubi-tubi pada hari itu. Saat umat Katolik tengah merayakan Paskah, delapan bom bunuh diri menggetarkan tiga kota di nega- ra berpenduduk mayoritas penganut Buddha tersebut. Selain di Ibu Kota Kolombo, serangan terjadi di Negombo dan Batticaloa. Aksi teror menewaskan sedikitnya 253 orang, termasuk 39 warga asing, dan melukai 500 lainnya. Tujuh pelaku bom bunuh diri diduga terlibat dalam serangan serempak terhadap Gereja St. Anthony di Kolombo, Gereja St. Sebastian di Negombo, dan Gereja Zion di Batticaloa. Serangan juga menghantam tiga hotel bintang lima di Kolombo, yakni ShangriLa, Cinnamon Grand, dan The Kingsbury. Dengan memanggul ransel besar, pelaku mendatangi setiap sasaran dan meledakkan diri.

Dari serpihan tubuh di lokasi serangan, aparat mengidentifikasi pelaku. Para pengebom diketahui sebagai pria kelas menengah-atas yang keluarganya stabil secara finansial. Beberapa di antaranya pernah kuliah di luar negeri. Setidaknya satu orang memetik gelar sarjana di Inggris sebelum pergi ke Australia untuk menempuh studi pascasarjana dan kemudian menetap di Sri Lanka. Di Distrik Kochchikade, Kolombo, ledakan bom memorak-porandakan Gereja St. Anthony, yang terletak sekitar 3,5 kilometer di utara Hotel Shangri-La. Jam dinding pada menara gereja Katolik itu terhenti di pukul 08.45, waktu terjadinya ledakan. “Rasanya seperti ada gempa. Semuanya berguncang dan jatuh,” ujar Vijaya Kumar, 36 tahun, anggota jemaat yang mengikuti misa Paskah. Langit-langit dan atap gereja rontok. Dinding terkelupas.

Bangku-bangku kayu tempat berdoa berserakan. Jumlah korban jiwa akibat ledakan di gereja berusia 175 tahun itu tidak diketahui pasti. Pejabat Sri Lanka memperkirakan lebih dari 80 anggota jemaat tewas seketika. Hari itu, lebih dari seribu orang menghadiri misa. Saya beruntung berada di dekat pintu. Saya berlari karena takut, ucap Kumar. Serangan pada hari itu merupakan aksi kekerasan terburuk yang pernah melanda Sri Lanka sejak perang saudara di negara berpenduduk 21 juta jiwa tersebut berakhir satu dasawarsa silam. Pemerintah semula menuding kelompok militan lokal Jemaah Tauhid Nasional sebagai dalang pengeboman. Tapi aparat masih meraba dugaan campur tangan orga- nisasi asing untuk menjelaskan bagaimana kelompok radikal Islam kelas domestik mampu melancarkan serangan berskala masif.

Jawaban itu muncul dua hari setelah serangan, ketika kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas rentetan serangan mematikan tersebut. Tanpa jaringan internasional, mustahil serangan semacam ini bisa terjadi, tutur juru bicara pemerintah Sri Lanka, Rajitha Senaratne. Aparat keamanan telah menahan 60 orang sebagai tersangka hingga Rabu, 24 April lalu.