Jemaah Tauhid Nasional Diduga Dekat Dengan Jemaah Mujahidin India

Wakil Menteri Pertahanan Ruwan Wijewardene bahkan menduga Jemaah Tauhid Nasional berhubungan dekat dengan Jemaah Mujahidin India. Kelompok radikal Islam di India tersebut ditengarai juga memiliki relasi dengan organisasi serupa di Bangladesh. Para teroris ini menjadi bagian dari jaringan teror global, katanya. Situasi ini berbeda dengan konflik lain yang pernah kami hadapi. Akibat serangan dahsyat ini, pemerintah Sri Lanka menuai sorotan tajam.

Penyebabnya bukan karena mereka tidak sigap menangani krisis selepas rentetan ledakan bom, melainkan lantaran pemerintah kecolongan sehingga gagal mengantisipasi aksi teror.

Senaratne, yang juga menjabat Menteri Kesehatan, mengakui pemerintah telah mendapat peringatan dari sejumlah lembaga intelijen tiga pekan sebelumnya. Senaratne mengungkapkan, pemerintah sudah diperingatkan pada 4 April lalu. Tapi, menurut dia, Perdana Menteri Sri Lanka “menutup mata”. Sepekan kemudian bahkan ada laporan intelijen dari pejabat kepolisian yang tidak hanya menyebut Jemaah Tauhid Nasional sebagai perancang serangan bom, tapi juga merinci nama-nama anggota kelompok itu dan alamat mereka. Orang-orang yang disebutkan dalam laporan intelijen itu termasuk mereka yang ditangkap atau tewas dalam aksi bom bunuh diri.

Namun informasi https://pwhm.net/ itu menyebar perlahan melalui beberapa lingkaran pemerintah Sri Lanka, yang dilanda pertikaian. Bahkan peringatan tak pernah sampai ke meja Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe, yang dilarang menghadiri pertemuan Dewan Keamanan di tengah perseteruan- nya dengan Presiden Maithripala Sirisena. Sirisena tengah berada di luar negeri saat terjadi serangan. Sejak memanas pada Oktober 2018, konflik politik di Sri Lanka belum juga reda. Saat itu Sirisena menggulingkan dan mengganti Wickremesinghe dengan orang pilihannya, bekas presiden Mahinda Rajapaksa. Tapi manuvernya gagal dan menjadi bumerang. Di bawah tekanan Mahkamah Agung, Sirisena terpaksa mengembalikan Wickremesinghe ke posisinya beberapa pekan kemudian.

Dalam keterangannya melalui media massa, Rajitha Senaratne menegaskan bahwa pemerintah akan mengusut kegagalan dalam merespons laporan intelijen tersebut. Kami mengetahui peringatan itu dan melihat detailnya, ucap Senaratne seraya menyampaikan permohonan maaf kepada para korban dan keluarga korban. Dia menjanjikan pemberian kompensasi kepada mereka dan pembangunan kembali gereja.

Masalahnya, peringatan tidak hanya datang dari lembaga intelijen dalam negeri. Badan telik sandi negara tetangga, India, juga memperingatkan Sri Lanka lebih dari dua pekan sebelumnya. Isinya menjelaskan potensi serangan bom bunuh diri terhadap gereja-gereja dan tempat wisata. Peringatan itu kembali dikirim dari New Delhi dua hari sebelum serangan. Kami harus melihat mengapa tindakan pencegahan yang memadai tidak diambil, ujar Wickremesinghe. Seorang pejabat intelijen India menerangkan, informasi yang mereka teruskan ke Sri Lanka diperoleh dari hasil interogasi tersangka kombatan ISIS. Dia mengungkap nama seorang pria, Zahran Hashim, salah satu pelaku bom bunuh diri dan dikaitkan dengan Jemaah Tauhid Nasional, katanya kepada CNN. Tersangka menyatakan berperan dalam radikalisasi (Zahran). Berita bahwa pembantaian di Sri Lanka sebenarnya bisa dicegah membuat banyak orang terperangah.

Kami heran ketika mengetahui kematian ini bisa dihindari. Mengapa tidak dicegah? kata Uskup Agung Kolombo Kardinal Malcolm Ranjith. Sayangnya, insiden tersebut tak membuat perseteruan antara Sirisena dan Wickre- mesinghe mereda. Presiden Sirisena, yang merangkap jabatan sebagai Menteri Pertahanan, mendesak wakilnya, Ruwan Wijewardene, dan kepala kepolisian mengundurkan diri. Sirisena juga berencana mencopot kepala pasukan pertahanan dan keamanan Sri Lanka. Dia beralasan, ketiganya berperan dalam menyumbat informasi intelijen dari India. Wijewardene, sekutu Perdana Menteri, melemparkan tudingan balik. Kepada Reuters, dia mengaku juga tidak mengetahui informasi intelijen India. Dia malah menuding para pejabat tinggi telik sandi sengaja menyembunyikan informasi tentang peringatan serangan tersebut.